/
/
Energi Panas Bumi Indonesia: Peran Grass Root dan Kolaborasi PGE Area Lahendong

Energi Panas Bumi Indonesia: Peran Grass Root dan Kolaborasi PGE Area Lahendong

-
4 Sep 2025
-
-
3936

Manado – Indonesia dikenal sebagai negeri cincin api, dengan kekayaan panas bumi yang luar biasa. Dari ribuan gunung berapi yang terbentang dari Sumatera hingga Papua, tersimpan energi bersih yang dapat menjadi tumpuan masa depan energi bangsa. Namun, kunci keberhasilan pengembangannya ternyata bukan terbatas pada persoalan teknologi dan investasi, melainkan juga dukungan dari masyarakat akar rumput (grass root).

Peran masyarakat akar rumput (grass root) dinilai penting dalam mendukung pengembangan energi panas bumi di Indonesia. Hal ini terlihat dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong di Sulawesi Utara, yang selain menyumbang hingga 30 persen kebutuhan listrik Sulut dan Gorontalo, juga aktif membangun sinergi dengan masyarakat sekitar.

Sejak beroperasi pada 2001, PLTP Lahendong yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) telah memiliki enam unit dengan kapasitas total 120 MW. Setiap tahun, operasi pembangkit ini berpotensi menekan emisi hingga 624 ribu ton CO₂ serta menghemat energi fosil setara 5.676 barel minyak per hari.

Program untuk Masyarakat

PGE Lahendong menjalankan sejumlah program tanggung jawab sosial yang menyasar pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Salah satunya adalah Mapalus Tumompaso, program ekonomi sirkular yang melibatkan lebih dari 3.000 masyarakat rentan di sekitar wilayah operasi.Selain itu, terdapat bank sampah “Setor Jo” yang telah memiliki lebih dari 200 nasabah aktif sejak 2022, termasuk penyandang disabilitas. Sampah yang terkumpul melalui program ini akan diolah menjadi produk bernilai ekonomi, seperti ecobrick, furnitur, hingga eco-enzyme.

Kolaborasi Desa Energi

Sinergi juga terjalin melalui kolaborasi antara Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Sulawesi Utara dan PGE Lahendong dalam pembangunan desa energi berbasis energi terbarukan.

Tahun 2022, di Desa Sendangan, Tompaso, keduanya bersama mitra lain membangun PLTS off-grid berkapasitas 4.800 watt/hari untuk mendukung UMKM lokal. Tahun 2023, inisiatif serupa dilakukan di Desa Tonsewer, Tompaso, dengan pembangunan PLTS yang menyuplai energi bagi kawasan wisata.

Program ini menunjukkan bahwa mahasiswa, masyarakat, dan perusahaan dapat bersinergi dalam memperluas akses energi bersih sekaligus mendukung ekonomi lokal.

Inovasi dan Ekowisata

Dari sisi teknis, PLTP Lahendong memanfaatkan limbah panas (hot brine) untuk menghasilkan tambahan listrik 500 kW yang dapat digunakan sekitar 250 rumah. Inovasi bleeding steam utilization juga dikembangkan guna mengurangi emisi gas rumah kaca.

Selain listrik, panas bumi Lahendong dimanfaatkan untuk ekowisata melalui pengembangan Lao-Lao Geopark, kolam pemandian air panas pertama di Indonesia yang langsung menggunakan energi panas bumi secara langsung.

Tantangan yang Masih Membayangi Lahendong

Meski kerap disebut sebagai contoh sukses, PLTP Lahendong tetap menghadapi sejumlah tantangan nyata. Tantangan ini bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga mencakup aspek sosial, lingkungan, hingga kebijakan. 

Salah satu tantangan utama adalah sistem penjualan listrik dengan PT PLN (Persero) sebagai pembeli tunggal. Mekanisme ini kerap membuat harga jual listrik panas bumi tidak sebanding dengan biaya operasional yang tinggi, terutama untuk pemeliharaan sumur dan penerapan teknologi mutakhir. Skema kontrak dan penetapan tarif yang cenderung kaku juga membatasi fleksibilitas dalam mengakomodasi dinamika di lapangan. Situasi ini berdampak pada keterlambatan realisasi proyek baru serta keterbatasan kapasitas tambahan, sehingga pemanfaatan potensi panas bumi yang besar di Sulawesi Utara belum bisa optimal mendukung kebutuhan energi daerah.

Di sisi lain, keterbatasan jaringan transmisi listrik di Sulawesi Utara juga menjadi kendala signifikan. Walau Lahendong sudah menghasilkan energi cukup besar, distribusinya ke wilayah-wilayah terpencil masih terhambat oleh infrastruktur kelistrikan yang belum merata. Akibatnya, sebagian potensi energi bersih belum bisa dirasakan secara luas oleh masyarakat di luar Manado dan sekitarnya.

Tantangan sosial juga tidak bisa diabaikan. Di berbagai proyek panas bumi di Indonesia, konflik sering muncul karena kurangnya komunikasi yang terbuka dan partisipatif. Meski Lahendong relatif sukses menjalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar, tetap ada potensi resistensi jika masyarakat merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau tidak merasakan manfaat langsung dari keberadaan proyek. Pengalaman di daerah lain, seperti Sorik Marapi atau Poco Leok, menjadi pelajaran penting untuk terus menjaga lisensi sosial.

Terakhir, tantangan yang sering luput dibicarakan adalah pemanfaatan energi panas bumi non-listrik Pemanfaatan langsung panas bumi (direct use). Hingga kini, Lahendong lebih banyak berfokus pada pembangkitan listrik. Padahal, potensi pemanfaatan langsung untuk sektor pertanian, pengeringan hasil bumi, hingga pariwisata masih sangat besar. Minimnya kebijakan dan model bisnis di bidang ini membuat peluang tersebut belum tergarap maksimal.

Harapan ke Depan

Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan inovasi berkelanjutan, komunikasi yang transparan, dan pembiayaan hijau yang lebih agresif. Kepala Divisi EBTKE Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Indonesia, Josua Sondakh, menegaskan bahwa kunci keberhasilan transisi energi terletak pada keterlibatan masyarakat akar rumput.

“Transisi energi hanya bisa berhasil apabila grass root ikut merasa memiliki,” ujar Josua. “Lahendong telah membuktikan bahwa keberhasilan energi bersih tidak hanya ditentukan oleh mesin dan sumur bor, tetapi juga oleh tangan-tangan masyarakat yang turut menyalakan masa depan.”

Jika grass root diberdayakan, komunikasi dijaga, dan keberlanjutan lingkungan diprioritaskan, maka energi panas bumi tidak hanya akan menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional, tetapi juga warisan berharga bagi generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *