MANADO, 26 November 2025 – Ekspedisi Panas Bumi Nusantara kini menjadi tonggak baru dalam pergerakan mahasiswa di sektor energi. Di tengah imperatif global untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) dan instruksi tegas Presiden Prabowo Subianto mengenai “Swasembada Energi”, Dewan Energi Mahasiswa Indonesia (DEM Indonesia) mengambil langkah strategis yang berani di ujung utara Sulawesi.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (26/11) ini bukan sekadar diskusi seremonial. Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Febrian Satria Hidayat, DEM Indonesia menegaskan posisinya sebagai katalisator transisi energi nasional. “Masa depan kedaulatan energi kita tidak bisa hanya dibicarakan di Jakarta. Ia harus dilihat, diaudit, dan diperjuangkan dari lumbung-lumbung energi seperti Sulawesi Utara,” ujar Febrian di hadapan ratusan delegasi mahasiswa dan pemangku kepentingan.
Momentum Geopolitik dan Kesiapan Daerah
Pemilihan Sulawesi Utara sebagai lokasi ekspedisi memiliki nilai strategis yang tinggi. Provinsi yang kini dipimpin oleh Gubernur Yulius Selvanus ini dikenal sebagai garda depan stabilitas dan toleransi di kawasan Timur Indonesia. Sehari sebelum kegiatan ini, Gubernur Yulius telah menginstruksikan jajarannya untuk memastikan kesiapan infrastruktur jelang Natal dan Tahun Baru, menegaskan bahwa keandalan pasokan energi adalah prasyarat mutlak bagi stabilitas daerah.
Dukungan penuh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dipimpin Fransiscus Maindoka, menunjukkan sinergi apik antara pemerintah daerah dan gerakan mahasiswa. Fasilitas Aula Mapalus yang menjadi venue acara menyimbolkan bahwa isu energi telah menjadi prioritas utama agenda pembangunan daerah.

Fakta Lahendong: Jantung Energi Hijau Sulawesi
Fokus utama dari Ekspedisi Panas Bumi Nusantara ini adalah meninjau potensi panas bumi (geothermal). Indonesia saat ini memegang 40% cadangan panas bumi dunia atau setara 24 Gigawatt. Sulawesi Utara sendiri adalah rumah bagi PLTP Lahendong, yang dikelola oleh PLN Indonesia Power.
Mengapa Lahendong begitu vital?
Teknologi Ramah Lingkungan: Emisi yang dihasilkan sangat rendah dibandingkan pembangkit fosil.
Kapasitas Besar: Dengan kapasitas 80 MW, pembangkit ini memasok sekitar 18% dari total kebutuhan listrik sistem Sulawesi Utara dan Gorontalo (Sulutgo).
Stabilitas Pasokan: Berbeda dengan tenaga surya (intermitten), panas bumi adalah baseload.
Staf Khusus Menteri ESDM, Pradana Indraputra, yang turut hadir, menekankan dalam berbagai kesempatan bahwa PLTP adalah milestone krusial menuju kemandirian energi. Panas bumi menyediakan listrik yang stabil 24 jam, menjadikannya tulang punggung ideal untuk menggantikan peran bahan bakar fosil tanpa mengorbankan keandalan jaringan listrik daerah.
Ket: PLTP Lahendong sebagai bukti nyata potensi panas bumi.
Menerjemahkan Visi Presiden
Febrian Satria Hidayat menutup kegiatan dengan pesan kuat yang menggemakan pidato pelantikan Presiden Prabowo. “Presiden telah mengingatkan bahwa dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, kita tidak boleh bergantung pada energi impor. Melalui ekspedisi ini, DEM Indonesia ingin menerjemahkan visi swasembada tersebut menjadi aksi nyata: mengawal pengembangan panas bumi agar manfaatnya dirasakan langsung oleh rakyat dan menjamin kedaulatan bangsa di masa depan,” tegasnya.
Menuju Indonesia Emas 2045
Suksesnya Ekspedisi Panas Bumi Nusantara di Manado menjadi sinyal positif. Jalan menuju Indonesia Emas 2045 dan NZE 2060 sedang dirintis dengan serius. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah melalui kebijakan top-down, tetapi juga dikawal oleh generasi muda yang akan mewarisinya.
Mahasiswa tidak lagi hanya berperan sebagai penonton atau pengkritik, melainkan mitra strategis yang terjun langsung ke lapangan. Dengan memahami tantangan teknis dan regulasi di lapangan seperti yang dilakukan di Lahendong, mahasiswa teknik, hukum, dan ekonomi dapat merumuskan rekomendasi kebijakan yang lebih presisi.
Diharapkan, kegiatan seperti ini tidak berhenti di Sulawesi Utara. Ekspedisi Panas Bumi Nusantara harus menjadi gelombang yang merambat ke seluruh pelosok negeri yang memiliki potensi vulkanik, menjadikan panas bumi sebagai tuan rumah di negerinya sendiri.